Strategi Potensi Pembinaan Olahraga Prestasi di Daerah dalam Menyongsong Pekan Olahraga Daerah

Posted: Maret 13, 2012 in Materi Olahraga
Tag:,


 Potensi Olahraga Prestasi

Pengembangan olahraga sampai sekarang ini mengalami perubahan sesuai dengan perkembanagan dan penerapan teknologi dalam olahraga. IPTEK olahraga memang tidak bisa di pungkiri sebagai salah satu factor yang mempengaruhi defenisi atau pengertiaan olahraga sampai sekarang ini..

Dewasa ini semakin sukar dipisahkan muatan teknologi yang menggabungkan otot dan mesin temuan ilmiah melahirkan olahraga yang berorientasi teknologi (techno sport). Pada tingkat Internasional masih dihadapkan pada kesulitan menetapkan defenisi olahraga yang dapat memuaskan banyak orang, sehingga sampai sekarang ini ditemukan defenisi olahraga yang beragam, sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu keolahragaan yang digunakan memahami fenomena olahraga.

 

Walaupun pengertian olahraga masih beragam namun esensi pengertian olahraga kebanyakan berkaitan dengan tiga unsure pokok yaitu; bermaian, latihan fisik dan kompotensi. Defenisi olahraga yang di rumuskan dewan Eropa  (1980)  “olahraga sebagai aktivitas spontan, bebas dan dilaksanakan selama waktu luang” Pengertian ini merupakan interpretasi yang masih bersifat umum yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi gerakan “Sport For All”.

Dari pengertian olahraga ini memberikan keluasan melaksanakan aktivitas olahraga sebagai suatu aktivitas olahraga yang tidak mengandung pengertian olahraga kompetitif.

Pengembangan olahraga prestasi sangat kompleks, sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk menghasilkan suatu prestasi pada tingkat dareah , nasioanal dan Internasional. Waktu yang panjang juga tidak cukup, jika tidak didukung oleh suatu program latihan secara bertahap dan berkelanjutan serta membutuhkan dana yang cukup. Untuk itu dalam pengembangannya dimulai dari pemassalan melalui pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah-sekolah dasar, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan spesialisasi olahraga pada usia dini, pemantapan dan pembinaan lebih lanjut.

Menurut Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat (2004) bahwa pola pembinaan dan pengembangan olahraga di Indonesia menggunakan pola piramida terbalik yaitu: dimulai dari pemassalan melalui sekolah-sekolah dan masyarakat, kemudian talent scouting (Pemandu Bakat), Pembinaan spesialisasi cabang olahraga di klub-klub, tahap pemantapan prestasi, dan terakhir penghalusan prestasi (berprestasi Nasional dan Internasional).

Dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Pinrang ini memerlukan partisipasi dan pengorbanan dari berbagai pihak, karena pemerintah secara keseluruhan belum mampu menyiapkan dana. Walaupun demikian pola pembinaan prestasi yang dianut di seluruh Kabupaten Pinrang haruslah sama sehingga terjadi sinergi sehingga hasilnya dapat maksimal. Propenas (2000) menjelaskan pentingnya keserasian kebijakan pengembangan olahraga antara pemerintah pusat dan daerah, demikian juga dengan pemasyarakatan olahraga pendidikan jasmani, perlunya dilakukan pemanduan bakat dan pembibitan usia dini serta peningkatan prestasi olahraga.

Dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Pinrang ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi yaitu sumberdaya manusia (atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga), sarana prasarana, dan kebijakan pemerintah daerah dan dana.

Menurut litbang KONI Pusat (2004) bahwa ada beberapa komponen yang menentukan tercapainya prestasi tinggi dalam olahraga prestasi yaitu ; keadaan teknik peralatan/sarana – prasarana olahraga, keadaan pertandingan, keadaan psikologi atlet, keadaan kemampuan keterampilan atlet, keadaan kemampuan fisik atlet, keadaan konstitusi tubuh dan keadaan kemampuan taktik/strategi.

Jika disimak pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa komponen teknis peralatan/sarana-prasarana olahraga yang dimaksudkan adalah suatu peralatan/sarana-prasarana olahraga yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam latihan dan pertandingan. Hal ini dimaksudkan bahwa jika seorang atlet yang tidak menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang representatif atau up to date (sesuai perkembangan IPTEK olahraga yang mutakhir), maka sulit seorang atlet dapat berkompetisi dengan atlet lainnya yang telah lama menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang up to date.

Kemudian yang dimaksudkan dengan keadaan pertandingan adalah suatu kondisi dimana seorang atlet dapat melakukan adaptasi terhadap tempat, situasi, periodisasi, jumlah pertandingan, pelatih yang menangani, jumlah penonton, sponsorship dan tingkat persaingan antar atlet. Keadaan psikologi adalah suatu tingkatan percaya diri, motivasi rasa cemas dan rasa aman terhadap masa depan yang dimiliki atlet untuk dapat berprestasi tinggi.

Keadaan kemampuan fisik, keterampilan, komposisi tubuh dan kemampuan taktik/strategi adalah suatu keadaan tingkat sumberdaya manusia yang dimilki atlet. Kemampuan keterampilan adalah suatu tingkatan keterampilan yang dimilki atlet sesuai cabang olahraganya, keadaan kondisi fisik adalah suatu tingkatan kondisi fisik yang dimilki atlet untuk dapat berprestasi atau mengikuti pertandingan tingkat daerah, nasional dan internasional.

Komposisi tubuh adalah suatu kondisi antrophometrik tubuh dan bakat yang dimilki atlet untuk dapat berprestasi tinggi pada cabang olahraganya dan keadaan taktik/strategi adalah suatu kodisi tingkatan pengetahuan taktik/strategi yang dapat diterapkan atlet dalam suatu pertandingan untuk dapat meraih prestasi tinggi.

Potensi faktor pembinaan Olahraga Prestasi di Tinjau Aspek Sumberdaya Manusia

Sumber daya manusia yang di miliki suatu daerah menempati kedudukan paling strategik dan penting diantara sumber daya lainnya. Sumber daya manusia yang mengalokasikan dan mengelolah segenap sumber daya lainnya, bagaimanapun berlimpahnya kondisi sumber daya lainnya tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas.Sumber daya manusia adalah model dasar pembangunan nasional pada umumnya dan peningkatan prestasi olahraga pada khususnya   Pengembangan olahraga prestasi kompleks, untuk itu di perlukan sumberdaya manusia yang berkualitas.komponen sumberdaya manusia yang dimaksudkan adalah atlet dan pelatih.

Menurut Harzuki (2003) bahwa setiap organisasi olahraga sangat tergantung pada orang-orang yang mengambil perang dari organisasi misalnya; administrator, pengumpul atau penyandang dana, perencana, wasit ,pelatih, atlet dan ahli sport medicine. Komponen-komponen sumber daya manusia ini sangat menentukan tingkat keberhasilan pengembangan olahraga prestasi di suatu kabupaten.

Di Kabupaten Pinrang sumber daya manusia seperti ini mungkin sudah ada, merupakan potensi besar bagi daerah Kabupaten Pinrang di masa datang, namun kualitas sumber daya manusia tersebut belum diketahui. Bagaimanakah kondisi kualitas atlet,pelatih dan pengurus olahraga? untuk jelasnya akan diuraikan komponen-komponen SDM sebagai berikut:

A.  Potensi Atlet

Sumber daya atlet memiliki peran yang sangat strategis dalam pola pembinaan olahraga,karena atlet adalah merupakan objek yang menjadi factor yang berpengaruh terhadap berhasil tidaknya suatu cabang olahraga dapat berprestasi merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh suatu cabang olahraga, sehingga dapat mencapai prestasi yang optimal. Atlet adalah seseorang yang telah melakukan pelatihan dari salah satu cabang olahraga secara kontinyu dalam waktu tertentu serta telah menunjukkan peningkatan prestasi secara terhadap.Atlet dunia telah mulai berlatih sejak usia dini yaitu umur 8 sampai umur 10 tahun dan mencapai prestasi puncak pada umur 18 sampai umur 20 tahun. Mekanisme pembinaan olahraga prestasi semestinya dimulai dari tahap pemanduan bakat (talent scouting). Khusus dalam pemilihan calon atlet di daerah tidak terlepas dari kegiatan alami atau apa kegiatan sehari-hari yang dilakukan di daerah tersebut, kondisi alam, disamping kemauan atau keinginan calon atlet tersebut.

B. Potensi Pelatih Cabang Olahraga

Pelatih adalah suatu sosok yang kadang dipuja dan kadang dicaci.hal ini sngat tergantung pada keberhasilannya meningkatkan prestasi atletnya.pelatih adalah orang yang secara sadar ,berkemauan keras ,terlibat dengan proses pelatihan untuk menekuni cabang olahraga yang disenaginya.menjadi pelatih adalah pekerjaan yang unik, di dalamnya terbentang luas aspek garapan yang sarat dengan tantangan, persaingan, aspek peningkatan diri, peningkatan kemampuan, menjaga dan memelihara kewibawaan, terampil berkomunikasi, cermat mengambil keputusan dan masih banyak lagi aspek pendukung yang kesemuanya bermuara pada upaya untuk sukses dalam bertugas sebagai pelatih.

Pelatih mempunyai tugas yang berat dalam melaksanakan suatu kepelatihan cabang olahraga, namun tugas tersebut bila berhasil mencapai prestasi yang di inginkan akan  menjadi mulia dan terhomat

di masyarakat.

Tugas utama seorang pelatih adalah membantu atlet untuk meningkatkan prestasinya setinggi mungkin. Atlet menjadi juara disebabkan karena ada hasil konvergensi  antara atlet yang berbakat dan proses pembinaan  yang benar dengan perbandingan sumbangan atlet 60% dan porsi pembinaan 40%, atlet juara lahir dan dibuat(Harsono,1988:31)

Selanjutnya Harsono (1988:32) mengemukakan ada tiga hal yang menunjang suksesnya seorang pelatih:

  1. Latar belakang pendidikan dalam ilmu –ilmu yang erat hubunganya dengan olahraga.
  2. Pengalaman dalam olahraga , baik sebagai atlet dunia maupun sebagi pelatih.
  3. Motivasi untuk senantiasa memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, yang mutakhir mengenai olahraga .

Bompa (1994) mengemukakan bahwa ada berapa aspek yang Perlu diperhatikan seorang pelatih dalam melaksanakan tugasnya sebagi seorang pelatih yaitu:

1) Aspek teknik adalah suatu latihan teknik yang bertujuan untuk mempermahir keterampilan teknik-teknik gerakan spesialisasi masing-masing cabang olahraga, agar dengan demikian setiap keterampilan gerak dapat dengan demikian setiap keterampilan gerak dapat dilakukan sebaik mungkin.

2) Aspek taktik adalah suatu latihan taktik yang dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan perkembangan daya tafsir dan kemampuan berpikir taktis dari para atlet.

3) Aspek fisik adalah suatu latihan fisik yang dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan fisik atlet menhadapi stress-stres fisik dalam latihan den perbandingan.

4) Aspek mental adalah suatu latihan mental yang diberikan kepada atlet dengan tujuan untuk meningkatkan perkembangan mental atlet.Latihan ini tidak kurang pentingnya dari perkembangan ketiga faktor diatas. Latihan mental lebih menekankan pada perkembangan kedewasaan atlet serta perkembangan emotional impulsive. misalnya motivasi berlatih, semangat bertanding, sikap pantang menyerah, percaya diri, sportivitas, keseimbangan, kemampuan meredam anxiety dan sebagainya.

Bahwa kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kamampuan yang di kuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan prilaku-prilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.

Kecakapan melatih paling memiliki tiga kompenen yang saling berhubungan yaitu pengetahuan, kompetensi atau kerampilan, sikap dan filosofi, setta personality (kepribadian)

 

Potensi Pengurus Cabang Olahraga

Dalam pelaksanaan manejemen organisasi olahraga diperlukan tingkat sumber daya manusia yang baik, karena organisasi olahraga merupakan orgnisasi semi formal. Kinerja organisasi di ukur dari prestasi yang telah di capai. Organiasasi membutuhkan manejemen yang efektif untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien, dengan mencapai prestasi yang di ukur dengan criteria yang relevan.

Kegiatan-kegiatan organisasi olahraga diarahkan untuk mengurus berbagai kebutuhan dalam pembinaan peningkatan prestasi atlet.

Manajemen olahraga dibagi dua bagian yaitu manajemen olahraga pemerintah (berada dalam mata anggaran DEPDIKNAS, DEPDAGRI) dan  Manajemen olahraga swasta (KONI. Instansi terkait dan dukungan masyarakat )

Animo masyarakat terhadap pembinaan olahraga prestasi, kemauan dan kerelaan masyarakat dalam membantu pengembangan olahraga sangat dibutuhkan. Organisasi adalah kinerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan kinerja organisasi adalah aktivitas dan tanggung jawab pengurus untuk memajukan lembaga yang diurusnya.

 Potensi faktor pembinaan Olahraga Ditinjau dari Aspek Sarana-Prasarana

 Pengembangan olahraga prestasi juga didukung oleh adanya sarana-prasarana yang memadai atau sesuai dengan standar yang digunakan dalam pertandingan resmi cabang olahraga tersebut.

Menurut Direktur Pendidikan Dasar, (1999:38) bahwa sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung keberhasilan pembinaan olahraga, yang harus tersedia bagi setiap upaya peningkatan prestasi sebagai tujuan utama pembinaan olahrga.

Menurut Harzuki, (2003) bahwa sumber daya sarana-prasarana dalam olahraga dibagi menjadi dua yaitu: sumberdaya materi dan sumberdaya fasilitas. Sumberdaya materi terdiri atas pralatan administrasi kantor, alat dan sumber daya fasilitas terdiri dari sarana olahraga (dan gedung/tempat latihan atlet), dan peralatan kesehatan.

Menurut Purnomohadi, (2003) mengatakan bahwa kebutuhan sarana dan prasarana perlu memperhatikan tiga faktor:

  1. Kualitas
  2. Kuantitas
  3. Dana

Untuk sumberdaya fasilitas terdiri atas: (1) atlet dan (2) pelatih. Untuk atlet terdiri atas: pemondokan dan maknan yang baik dan dekat dengan lokasi latihan, akses pada kesempatan pendidikan yang memadai, akses dengan transportasi mudah, akses pada kesempatan pendidikan yang memadai, akses dengan tempat kerja yang relatif dekat, dukung masyarakat, termasuk dukungan dari media.

Untuk pelatih terdiri atas, akses terhadap sumberdaya personil yang cukup seperti asisten peltih, manajer dan ahli sport medicine, akses pada fasilitas dan pelayanan untuk semuanya seperti ruang belajar, ruang latihan beban dan peralatannya.

 Potensi faktor pembinaan Olahraga Prestasi di tinjau dari Aspek Kebijakan   Pemerintah

Untuk mengembankan olahraga prestasi di Kabupaten Pinrang memang tidaklah  Mudah, karena persoalannya sangat kompleks dan menuntut komitmen tinggi dari semua unsur yang terlibat didalamnya dan hal ini sangat berbeda dengan daerah lain.

Noerbai (2003) mengemukakan bahwa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Rusia dan Eropa lainnya, olahraga sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang mendirikan klub-klub dan masuk menjadi anggota pada perkumpulan-perkumpulan untuk melakukan aktiptas fisik, jadi olahraganya tumbuh dari bawah.

Selanjutnya dikemukakan juga bahwa kalau di Indonesia pengembangan olahraga prestasi haruslah dimulai dari atas atau dari pimpinan Negera (kebijakan pemerintah pusat dan daerah) dan untuk mengembangkan masih harus melakukan negosiasi yang baik dengan pemerintah, sehingga anggaran yang dibutuhkan bisa disiapkan oleh pemerintah (Noerbai, 2003).

Menurut Suhantoro (2003) bahwa kini tibalah saatnya Pemerintah Kabupaten mengambil langkah pembaharuan dan modernisasi pembinaan olahraga Nasional. Semacam revolosi yang harus dilakukan; tidak lagi defensif menereima laporan begitu saja dari induk organisasi cabang olahraga, namun diperlukan tindakan lebih ofensif, agar Pemerintah Kabupaten  aktif sejak permassalan, pembibitan, pembinaan intesif, seleksi bibit atlet elit didalam mempersiapkan program jangka pendek dan jangka menengah, untuk memenuhi komitmen daerah, Nasional, Internasional.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten  masih tergantung pada pola kebijakan pemerintah ditingkat provinsi  dan dukungan dari masyarakat, kebijakan pemerintah dan dukungan masyarakat berupa penyediaan dana yang cukup pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, sehingga proses pembinaan atlet dapat berjalan secara sistematik, kontinyu dan berkesinambungan.

Potensi faktor pembinaan  olahraga prestasi ditinjau dari Kinerja organisasi  

Dalam olahraga sangat dibutuhkan suatu manajemen olahraga dimana manajemen olahraga terbagi dalam 2 bagian manajemen olahraga pemerintah dan manajemen olahraga swasta.

Organisasi merupakan suatu wadah atau alat untuk mencapai tujuan organisasi Anwar Pasau (2006). Dalam suatu organisasi harus dapat menampung berbagai program kegiatan yang telah di rancang untuk mencapai tujuaan organisasi. Harsuki (2002) Menyatakan nilai suatu organisasi tergantung pelaku organisasi itu sendiri. Dalam upaya meningkatkan prestasi atlet maka kinerja organiasi keolahragaan harus ditingkatkan kualitasnya baik ditingkat pusat maupun daerah. Peningkatan prestasi olahraga dapat di tingkatkan semaksimal mungkin dengan memperhatikan kinerja organisasi pada masing-masing cabang olahraga. Organiasi dan manajemen olahraga harus kondusif yang dilakukan dengan efisien dan efektif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s